Sistem Ekskresi Pada Hati Manusia 3 Maret 2020

Sistem Ekskresi Hati Pada Manusia


Image result for sistem ekskresi pada hati manusia


Sistem ekskresi merupakan sistem yang mengatur pembuangan zat-zat sisa yang tidak digunakan dan bersifat racun dari dalam tubuh. Zat sisa ini didapatkan dari hasil metabolisme tubuh. Setiap hari manusia mengonsumsi makanan makanan yang akan dicerna melalui sistem pencernaan pada manusia. Zat makanan kemudian diedarkan oleh alat peredaran darah ke seluruh tubuh.

Namun zat yang dikonsumsi bukan hanya zat nutrisi yang digunakan tubuh. Zat seperti alkohol dan obat-obatan yang bersifat racun juga ikut diedarkan darah. Disinilah organ sistem ekskresi berperan penting dalam pembuangan zat racun dari tubuh. Apabila terjadi kelainan pada sistem ekskresi manusia, maka tubuh tidak bisa mengeluarkan zat sisa metabolisme dari tubuh secara optimal. Organ yang termasuk dalam sistem ekskresi pada manusia adalah hati, paru paru , ginjal, dan kulit.
Hati memegang peranan yang penting dalam menjaga metabolisme tubuh. Fungsi hati manusia dalam sistem ekskresi adalah menghasilkan empedu, amonia dan urea. Serangkaian reaksi terjadi saat pembentukan empedu, amonia, dan urea sampai pengeluarannya dari tubuh. Kelainan pada hati akan menyebabkan gangguan pada sistem ekskresi. Beberapa tanda tanda penyakit hati diantaranya kelelahan yang berlebihan, jaundice, nyeri di daerah perut, ada pembengkakan (edema), dan sebagainya. Berikut adalah beberapa sistem ekskresi hati pada manusia :
Ekskresi Melalui Empedu
Empedu merupakan cairan berwarna kuning kehijauan yang dihasilkan oleh hati. Fungsi empedu diantaranya:
  • Membantu pencernaan lemak dalam usus halus – empedu membantu fungsi enzim lipase usus halus dengan meningkatkan luas permukaan lemak sehingga mudah untuk diubah menjadi asam lemak dan gliserol
  • Sebagai pengemulsi lemak – empedu mengikat lemak dengan membentuk misel misel. Misel ini mudah larut dalam air sehingga mudah ditransport mendekati dan diserap dinding bagian bagian usus halus
  • Memberi suasana basa – beberapa enzim pencernaan di usus tidak bisa bekerja optimal dalam suasana asam. Hal ini dinetralisir oleh empedu yang bersifat basa
  • Membantu pencernaan vitamin larut lemak – dengan membantu pencernaan lemak secara tidak langsung empedu juga membantu pencernaan vitamin vitamin larut lemak yaitu vitamin A, D, E, dan K
  • Bakterisida – empedu memiliki sifat bakterisida yaitu mengurangi bakteri merugikan pada bagian bagian usus besar
Fungsi empedu secara lengkap dapat dibaca pada artikel fungsi getah empedu dan fungsi cairan empedu dalam pencernaan.
  1. Pembentukan Empedu
Empedu dibentuk oleh sel hepatosit (sel hati) kemudian dialirkan melalui saluran empedu menuju usus halus atau menuju kantong empedu untuk disimpan. Komposisi empedu antara lain air, getah empedu, bilirubin, kolesterol, asam lemak, lesitin, natrium, kalium, kalsium, klorida, dan ion bikarbonat. Zat-zat dalam empedu merupakan zat yang akan dibuang dari tubuh. Mineral mineral yang ada dalam empedu sebenarnya dibutuhkan tubuh, namun tubuh tidak bisa menyimpannya. Akibatnya kelebihan mineral ini dibuang keluar tubuh melalui empedu. Empedu yang dihasilkan oleh hati dapat mencapai 1 liter per hari.
  1. Penyimpanan Empedu
Tidak semua empedu yang dihasilkan dikeluarkan dalam usus halus. Sebagian besar empedu disimpan dalam tubuh pada kantong empedu. Fungsi kantong empedu lainnya dapat dibaca pada artikel sebelumnya. Kantong empedu hanya dapat menyimpan empedu sekitar 30-60 ml saja, sehingga empedu dari hati dipekatkan dengan cara mengabsorbsi air, natriun, klorida dan elektrolit lainnya. Akibatnya ada perbedaan yang signifikan antara konsentrasi empedu yang disekresikan hati dan yang disimpan dalam kantong empedu.
  1. Sekresi Empedu
Empedu yang disimpan dalam kantong empedu akan disekresikan saat ada makanan yang masuk kedalam usus halus. Peristiwa ini biasanya terjadi 20 menit setelah konsumsi makanan atau minuman. Makanan, khususnya yang mengandung lemak, akan merangsang kantong empedu untuk mensekresikan empedu. Sekresi empedu juga dipengaruhi oleh rangsangan dari kelenjar pankreas dan saraf saraf pada perut. Penjelasan lebih lengkap mengenai fungsi kelenjar pankreas dapat dibaca pada artikel sebelumnya.

Ekskresi Melalui Siklus Urea

Amonia merupakan hasil samping dari metabolisme protein dalam tubuh. Amonia merupakan zat yang bersifat racun dalam tubuh. Kelebihan amonia dalam tubuh dapat menyebabkan keseimbangan terganggu dan mengurangi energi yang dihasilkan tubuh. Ini disebabkan amonia menggunakan α-ketoglutarat pada siklus krebs untuk membentuk glutamin. Oleh karena itu kadar amonia dalam tubuh tidak boleh lebih dari 35µmol/L. kelainan pada tubuh yang berkaitan dengan kadar amonia/urea yang tinggi disebut hiperamonemia. Tubuh manusia akan merespon keberadaan amonia dengan mengubahnya menjadi senyawa yang tidak beracun, yaitu urea melalui siklus urea.
  1. Siklus Urea
Urea merupakan zat yang tidak beracun dan dapat dibuang melalui urin. Urea merupakan hasil reaksi dari amonia, karbondioksida dan asam aspartat. Reaksi ini terjadi dalam matriks mitokondria dan sitosol dari sel hepasit. Pembentukan urea berlangsung melalui 5 tahapan yaitu:
  • Pembentukan karbamoil fosfat– karbamoil fosfat dibentuk dari reaksi amonia, ion bikarbonat dari karbondioksida. Reaksi ini membutuhkan energi ATP dan dikatalis oleh enzim pada mitokondia
  • Pembentukan sitrulin – sitrulin dibentuk dari ornitin dan karbamoil fosfat dengan bantuan enzim ornitin transkarbomoilase. Sitrulin kemudian masuk ke dalam sitosol
  • Pembentukan argininosusinat – sitrulin pada sitosol dikatalis menggunakan enzim argininosusinat sintetase dan energi ATP membentuk argininosusinat
  • Pemecahan argininosusinat– segera setelah terbentuk argininosusinat dipecah oleh enzim argininosusinat liase menjadi arginine dan fumarat. Fumarat yang dihasilkan masuk kedalam siklus krebs
  • Hidrolisis arginine – arginine kemudian bereaksi dengan air dan menghasilkan ornitin dan urea. Ornitin yang dihasilkan akan masuk kembali dalam reaksi tahap kedua
  1. Sekresi Urea
Urea yang dihasilkan dari siklus urea pada hati kemudian dibawa ke dalam ginjal untuk selanjutnya dibuang bersama urin. Selain melalui ginjal, urea juga dapat dikeluarkan tubuh melalui keringat pada kulit. Kedua organ ini saling melengkapi. Saat cuaca dingin, keringat jarang keluar sehingga sebagian besar urea dikeluarkan melalui urin. Sedangkan pada cuaca panas, urea banyak dikeluarkan melalui keringat.
Apabila ekskresi amonia terganggu maka kadar amonia dalam darah akan meningkat. Kondisi ini disebut dengan hiperamonemia. Penderita hiperamonemia akan mengalami beberapa gejala sebagai berikut:

  • Dehidrasi – penderita hiperamonia akan mengalami dehidrasi akibat adanya ketidakseimbangan cairan pada tubuh yang disebabkan mengingkatnya kadar amonia dalam darah
  • Kelesuan– kadar amonia yang meningkat akan mengganggu jalannya siklus krebs sebagai penghasil energi utama tubuh. Akibatnya tubuh terasa lemas
  • Nafas memburu – energi yang dihasilkan tubuh berkurang sehingga bagian bagian otak manusia mengirimkan sinyal untuk mempercepat metabolisme tubuh, salah satunya dengan mempercepat pengikatan oksigen
  • Lemah otot – otot lurik memerlukan banyak energi dalam beraktivitas. Jika energi berkurang maka otot akan melemah

Gangguan Hati: Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasinya


Gangguan hati dapat memengaruhi kondisi kesehatan umum seseorang secara signifikan. Infeksi virus, faktor genetik, efek samping obat-obatan, dan gaya hidup yang kurang sehat, merupakan faktor-faktor yang dapat menyebabkan gangguan hati. 
Hati (liver) merupakan organ terbesar yang dimiliki manusia. Organ ini terletak di dalam rongga perut, pada bagian kanan atas perut, dan terlindungi oleh tulang rusuk serta diafragma. Hati berperan dalam menetralisir racun, sintesis protein, dan pembekuan darah. Hati juga berperan sebagai organ yang memproduksi empedu untuk pencernaan.
Gejala Gangguan Hati
Sebagian besar gangguan hati tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Sering kali gejala muncul ketika gangguan hati sudah memasuki tahap lanjut, atau bahkan saat kondisi hati sudah rusak parah.
Warna kulit dan mata yang menjadi kekuning-kuningan merupakan tanda gangguan hati yang paling umum. Gejala lainnya yang dapat muncul pada gangguan hati, antara lain adalah kulit terasa gatal, mudah memar, cepat lelah, urine berwarna gelap, feses berwarna pucat, perut bengkak, dan nyeri.
Segera hubungi dokter jika Anda mengalami gejala tersebut, terutama jika gejala yang dirasakan tidak hilang berhari-hari. Jika diabaikan, gangguan hati dapat menjadi semakin parah.
Penyebab Umum dan Faktor Risiko Gangguan Hati
Gangguan hati disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya sebagai berikut:
  • Infeksi virus hepatitis, seperti virus hepatitis A, B, dan C. Virus hepatitis A ditularkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi virus hepatitis. Sedangkan hepatitis B dan C menular melalui air mani, darah, kontak dengan penderita hepatitis B dan C.
  • Kelainan genetik.
  • Kanker.
  • Penimbunan lemak.
  • Gangguan sistem imun.
Gangguan hati juga dipicu oleh penyakit, lingkungan, dan gaya hidup yang tidak sehat. Risiko seseorang menderita gangguan hati menjadi lebih tinggi jika:
  • Menggunakan jarum suntik untuk narkoba secara bergantian.
  • Menggunakan jarum tindik atau jarum tato yang tidak steril.
  • Melakukan hubungan seks tanpa pengaman atau sering berganti pasangan.
  • Kontak dengan darah atau cairan tubuh penderita hepatitis.
  • Mengonsumsi obat-obatan berlebihan.
  • Mengonsumsi suplemen atau obat herbal, seperti pegagan dan daun kenikir, dalam dosis tinggi.
  • Memiliki kebiasaan minum minuman beralkohol.
  • Terpapar zat kimia jangka panjang.
  • Mengalami obesitas.
  • Menderita diabetes.
Jenis-jenis Gangguan Hati
Berbagai macam kondisi kondisi dan penyakit dapat mengganggu fungsi hati. Jenis-jenis gangguan hati tersebut antara lain:
  • Penyakit kuning
    Di Indonesia, kondisi kulit dan mata yang menguning dikenal dengan penyakit kuning. Padahal kondisi ini sebenarnya merupakan gejala dari gangguan hati yang ditandai dengan perubahan warna kuning pada kulit dan mata. Hal ini disebabkan oleh kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam aliran darah yang melebihi rentang normal. Tingkat bilirubin menjadi tinggi karena terjadi kelainan sel atau peradangan pada hati.
  • Kolestasis
    Kolestasis merupakan kondisi terhambatnya cairan empedu. Cairan empedu dihasilkan hati guna membantu proses pencernaan. Aliran empedu yang terhambat ini menyebabkan penumpukan bilirubin.
  • Sirosis
    Sirosis merupakan kondisi terbentuknya luka atau jaringan parut di hati yang bersifat kronis. Kerusakan pada hati yang mengalami sirosis tidak bisa diperbaiki. Kondisi ini bisa menyebabkan kegagalan hati. Kebiasaan minum minuman beralkohol, infeksi virus Hepatitis B dan C merupakan penyebab paling umum dari sirosis.
  • Hepatitis A
    Penyakit ini disebabkan oleh virus Hepatitis A. Virus ini menyebabkan peradangan hati. Cara penularannya adalah melalui feses, air, dan makanan yang terkontaminasi. Kontak fisik dengan penderita melalui hubungan seks juga dapat meningkatkan risiko tertular hepatitis A.
  • Hepatitis B
    Hepatitis B merupakan infeksi hati. Penyakit ini disebabkan oleh virus Hepatitis B yang ditularkan melalui darah, cairan tubuh, atau luka yang terbuka. Ibu hamil yang menderita hepatitis B juga dapat menularkannya kepada janin di dalam kandungan. Hati yang terinfeksi akan mengalami luka, kegagalan hati, dan bahkan kanker jika tidak ditangani secepatnya.
  • Hepatitis C
    Virus Hepatitis C dapat menular melalui darah. Hepatitis C membuat hati mengalami pembengkakan. Kondisi kronis dari infeksi virus ini membuat hati mengalami sirosis, kegagalan hati, dan kanker hati.
  • Fatty liver atau perlemakan hati
    Sesuai dengan namanya, karateristik penyakit ini ditandai dengan terlalu banyak lemak yang tersimpan dalam hati. Akibatnya, hati mengalami peradangan yang dapat berkembang menjadi jaringan parut permanen. Pada kondisi kronis, hati berisiko mengalami sirosis dan terjadi kegagalan hati. Fatty liver bisa dipicu oleh konsumsi minuman keras (alcoholic fatty liver), juga oleh sebab lain (non-alcohoic fatty liver disease/NAFLD), seperti diabetes dan obesitas.
  • Kanker hati
    Kanker hati terjadi ketika sel hati mengalami mutasi sehingga tumbuh secara tidak terkendali. Dalam beberapa kasus, infeksi kronis akibat virus hepatitis B dan C menyebabkan kanker hati.
Selain dari yang disebutkan di atas, beberapa penyakit yang disebabkan oleh bakteri, toksin, dan kelainan genetik juga bisa menyebabkan gangguan hati.
Pengobatan Gangguan Hati
Pengobatan gangguan hati tergantung pada jenis penyakitnya. Beberapa gangguan hati dapat diatasi dengan mengubah gaya hidup, seperti berhenti mengonsomsi minuman beralkohol, menurunkan berat badan, dan menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat.
Konsumsi obat antivirus diperlukan jika gangguan hati disebabkan oleh infeksi virus. Namun jika sudah mengalami sirosis, hati yang rusak tidak dapat disembuhkan. Upaya pengobatan tetap bisa dilakukan dengan memantau perjalanan penyakit dan menekan risiko komplikasi.
Pengobatan untuk pasien dengan kondisi kegagalan hati kronis dilakukan dengan operasi untuk menyelamatkan bagian hati yang masih berfungsi. Jika ternyata upaya ini tidak memungkinkan, diperlukan transplantasi hati untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Gangguan hati bisa dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat. Selain itu, hindari kontak langsung dengan darah maupun cairan tubuh penderita hepatitis. Pastikan juga Anda dan keluarga mendapatkan vaksinasi hepatitis sebagai langkah efektif mencegah penyakit ini.
Jika mengalami tanda dan gejala yang terkait gangguan hati, Anda perlu berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lengkap dan penanganan lebih lanjut.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keutamaan Shalat Berjama'ah ( Pesantren Daring ) Kelas 7F, 7G dan 8A ,,,,11 Mei 2020

KEMAGNETAN

Konsep Gerak dan Ruumusnya Kelas 8 20 Juli 2020